Perjalanan Menuju Tobat Sampah (Mengapa Saya Belajar Zero Waste?)

Saturday, February 16, 2019


Zero Waste

Kita berdoa dulu yuk, semoga temen-temen di sini nggak perlu menunggu waktu selama saya untuk mendapat hidayah dan hijrah ke gaya hidup minim sampah. Karena saya pribadi, butuh waktu hampir 15 tahun untuk move on dari cara lama ke gaya hidup yang sekarang ini.

Sebelum membaca perjalanan saya menuju zero waste tersebut, saya sarankan temen-teman untuk mengencangkan sabuk pengaman. It's gonna be a very long story. Karena yaaa.. ini merupakan rangkuman refleksi hidup saya selama 15 tahun tadi… 😀.

THE BEGINNING

Semua berawal dari bergabungnya saya ke sebuah organisasi pencinta alam di sekolah. Waktu itu, umur saya masih separuh dari usia saya yang sekarang. Dari kegiatan ekskul ini, saya jadi akrab, suka dan cinta sama gunung. Biarpun punya fisik yang nggak kuat-kuat banget, paling gampang capek, dan nggak hobi olahraga, tapi semua itu saya lakukan demi merasakan sensasi ajaibnya berada di atas puncak gunung itu tadi.

Dari sini juga, kecintaan saya terhadap kelestarian alam berakar. Ngeliat alam segitu bagusnya terhampar di depan mata, rasanya ingin ngejaga terus. Maka ketika berpetualang ke alam bebas, saya selalu mengamalkan kode etiknya para pencinta alam untuk (A) Tidak mengambil apapun kecuali gambar, (B) Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak, dan (C) Tidak membunuh apapun kecuali waktu.

Alhasil, ketika melihat pendaki abal-abal yang hobinya meninggalkan sampah-sampah di gunung, hati saya rasanya kesel dan pengen marah-marah. Mereka nggak pantes menyandang nama pencinta alam.

Danau Segara Anak, surganya Gunung Rinjani - credit - Tripadvisor.nz

Puncak kekesalan tersebut, terjadi ketika saya mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Sebagai informasi aja, Gunung Rinjani ini merupakan gunung impian di kalangan pendaki. Prestigious, semacam kampus UI yang menjadi idaman seantero Indonesia. Cuma dulu, saya belum kesampaian ke Rinjani karena jaraknya terlalu jauh dari Jakarta. Perlu modal fulus yang banyak, sedangkan saat itu saya masih jadi anak SMA misqin.

Hampir 10 tahun kemudian, ketika saya sudah punya penghasilan sendiri, barulah saya berani menjemput impian masa remaja untuk mendaki gunung tertinggi ke-3 di Indonesia tersebut.

PUPUS

Namanya juga penantian panjang ya. Selain excited, ekspektasi juga semakin tinggi. Seminggu sebelum cuti kerja, pikiran saya sudah mengawang-ngawang lagi mandangin Danau Segara Anak sambil minum teh anget dari balik tenda 😀.

Mendaki gunung, lewati lembah :)

Tapi sampai di sana, saya malah pupus 💔

Saya ingat waktu itu hari sudah gelap, namun saya masih tertahan di Tujuh Bukit Penyesalan (yang medannya sangat berat itu). Penerangan saat itu sangat seadanya. Kondisi fisik dan mental saya mulai menurun karena ternyata pas di perjalanan, saya tiba-tiba kena radang tenggorokan dan batuk berat. Padahal pas berangkat masih ngerasa sehat. Apalagi di gunung kan dingin ya, kadar oksigen juga lebih sedikit. Bikin saya tambah nggak nyaman.

Tapi, semua itu nggak seberapa dibanding ketika akhirnya saya berhasil tiba di Plawangan Sembalun yang merupakan basecamp atau tempat peristirahatan terakhir sebelum mencapai puncak Rinjani. Saya shock dan nggak percaya dengan yang saya lihat. Di ketinggian seperti ini, lebih dari 2500 meter di atas permukaan laut, sampah-sampah pendaki, seperti botol plastik, kresek, tissue basah dan kemasan kopi sachet berserakan.

Keadaan sampah di Plawangan Sembalun kala itu, mirip dengan kondisi sampah setelah hajatan atau sampah pasca konser dangdut yang belum dibenahi oleh petugas kebersihan 😢.

sampah-sampah di Gunung Rinjani


TITIK BALIK

Bisa dibilang pemandangan sampah-sampah di Rinjani, masuk ke memori jangka panjang saya. Nggak bisa dilupain sampai hari ini. Dan nggak mau saya lihat dimanapun juga di muka bumi.

Tapi…pengalaman tersebut tidak lantas membuat saya tobat dan memutuskan untuk belajar zero waste. Penyebabnya? Yaaa… saya pikir, apa yang saya lakukan selama ini sudah benar, yaitu membuang sampah pada tempatnya.

Kondisi perlahan berubah, ketika akhir tahun 2017 lalu, takdir membawa saya untuk kembali ke Lombok. Kali ini bukan sebagai turis, tapi pindah ke sana sekeluarga, mengikuti keperluan dinas suami. Sebagai konsekuensi, saya memiliki banyak kesempatan untuk mengeksplorasi pulau ini.

Hampir setiap minggu, saya dan keluarga berkesempatan untuk menjelajahi setiap jengkal pulau, mengeksplorasi setiap pantai, dari yang aksesnya mudah, sampai yang jalanan menuju ke sana nya becek macam jalur off-road. Kesimpulannya, tidak ada pantai di Lombok yang bebas dari sampah. Kecuali kalau pantainya dikelola oleh resort. Pencarian saya akan surga tersembunyi gagal total.

Dari situ saya mulai merenung, kok bisa ya sampah-sampah ini ada dimana-mana? Ya di puncak gunung, ya di laut. Kalau di gunung masih dipahami lah, pasti ada aja orang yang males bawa pulang sampahnya. Tapi di pantai yang tersembunyi? Dari mana sampah-sampah ini berasal?


BUKA MATA, BUKA HATI

Sejak saat itu, saya mulai rajin membuka mata, dan mengobservasi tentang segala hal terkait sampah di Lombok. Hasilnya, ternyata perilaku sebagian besar masyarakat di sini memang masih suka membuang sampah sembarangan. Penggunaan kemasan plastik sekali pakai pun tidak terkontrol. Sama saja lah dengan warga Jakarta.

Tapi, walaupun sama-sama kurang kesadaran, namun warga Jakarta lebih beruntung. Pengangkutan sampah di tingkat RT sudah relatif baik, petugas kebersihan atau si pasukan orange juga banyak jumlahnya. Begitupun dengan truk pengangkut sampah. Selain itu, sosok yang tidak kita pedulikan selama ini, pemulung, sebetulnya juga membantu sekali dalam memungut sampah-sampah anorganik di jalanan dan menjadikannya barang bernilai secara ekonomi.

Paling tidak, sampah-sampah yang dihasilkan warga Jakarta tidak berserakan, seolah menimbulkan ilusi bahwa Jakarta itu lebih bersih dari Lombok. Walaupun sebenarnya sih, sampah-sampah tersebut hanya dipindahkan ke Bantar Gebang.

Sedangkan dari pengamatan saya di Lombok, petugas kebersihan di sini mainnya masih kurang jauh. Tidak menjangkau seluruh pulau. Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan warga yang rumahnya di pesisir. Katanya sampah mereka memang jarang diangkut. Jadi ya bakar sendiri aja. Apapun jenis sampahnya. Kalau malas, buang aja di laut, atau bahu jalan terdekat.

SAMPAH DARI PULAU NAN JAUH DI SANA

Selain dari dalam Pulau Lombok itu sendiri, ternyata sampah-sampah juga diduga berasal dari pulau-pulau yang Jauh seperti Jawa, Sulawesi dan Kalimantan! Kok bisa?

Semua itu tak lepas dari letak geografis Selat Lombok  yang berada di pertemuan dua arus. Jadi sampah-sampah dari Kalimantan dan Sulawesi tersebut terombang-ambing ke Selatan. Sedangkan dari Jawa, bergerak ke arah Timur. Lalu keduanya masuk ke perairan Lombok (Dan Bali) pada bulan-bulan tertentu. Bukan cuma sampah plastik yang dikirimkan, tapi juga sampah-sampah kayu.

Tau nggak apa akibatnya dari semua ini? Nelayan mengeluh susah mencari ikan. Mereka yang sudah kerja keras menarik jaring, malah dapat sampah, bukan hewan laut. Pantas kan, kalau pada akhirnya, Menteri Kelautan dan Perikanan kita, Ibu Susi Pudjiastuti, melarang penggunaan kemasan plastik di kantornya?

MISKONSEPSI YANG DILURUSKAN

Karena sudah tidak kuat dengan fakta-fakta yang saya temui sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk belajar mengelola sampah. Awalnya hanya membaca dari Internet. Kemudian saya bertemu dengan Mbak Aisyah Odist, aktivis sekaligus penggerak Kampung Wisata Kreatif Sampah Terpadu (Kawist Krisant) di Lombok. Perjalanan baru tentang dunia persampahan pun dimulai, dengan berguru kepada beliau.

Salah satu sudut di Kawis Krisant. Kampung wisata binaan Mbak Aisyah


Ilmu yang saya dapat dari Mbak Aisyah, membuat saya sadar, kalau ternyata perlakuan saya terhadap sampah selama ini salah total! Buang sampah di tempat sampah itu nggak cukup, karena cuma sekadar memindahkan sampah dari rumah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sedangkan daya tampung TPA hanya sedikit. Belum lagi, di sana sampah kita tercampur-baur, menimbulkan bau dahsyat.
Yang harus saya lakukan adalah mengurangi produksi sampah, sekaligus mengelola sampah yang sudah dihasilkan dari rumah. Caranya? Ya melalui pemilahan dan pengelolaan sampah sesuai dengan jenisnya masing-masing (jangan setelah dipilah, dicampur lagi sama tukang sampah...itu sih sia-sia namanya).

Misalnya, botol plastik, kaleng bekas, kemasan kaca dan kardus bekas, bisa disedekahkan ke pemulung dalam keadaan bersih (ini sumber penghasilan utama mereka). Bisa juga ditabung di bank sampah atau diserahkan ke drop box perusahaan pengelola sampah (jika Ada). Untuk kemudian diproses kembali.

Sampah organik rumah tangga, diolah sendiri menjadi pupuk dengan bantuan komposter. Sedangkan sampah non organik yang tidak laku dijual (seperti bungkus permen, plastik kresek, sedotan dll) bisa dibuat ecobrick.

Baca juga:



MEMBACA ZAMAN

Dalam buku Pendidikan Berbasis Fitrah karya Ustadz Harry Santosa, disebutkan tentang fitrah zaman. Artinya, manusia seharusnya mampu bersikap lentur dengan zaman dimana ia tinggal. Tentunya selama “kelenturan” itu tidak bertolak belakang dengan aturan Pencipta.

Pada zaman ini, saya menyadari kalau kondisi alam sudah berubah ke arah yang memprihatinkan, sehingga kita juga harus mengganti pola hidup yang sesuai dengan masanya. Dan menurut saya, memulai hidup zero waste adalah langkah yang tepat. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga perlu diteruskan ke orang lain serta generasi mendatang.

Karena kita nggak pernah tau, kondisi alam seperti apa yang akan dihadapi oleh anak-anak kita. Bisa saja suatu hari, harga ikan lokal ikutan melambung tinggi layaknya ikan impor karena keberadaan mereka sudah langka di perairan Indonesia. Itu baru satu kemungkinan, masih banyak kemungkinan-kemungkinan buruk lain.

Tapi saya optimis, kalau kita melangkah secara kolektif, tentu segala yang buruk tersebut bisa dimitigasi.  Jadii.. mari berhijrah dan selamat menjadi bijak dalam mengelola sampah!

***

You Might Also Like

2 comments

  1. Bener , mbak.. ternyata buang sampah ditempatnya saja belum cukup. Saya juga sedang berusaha belajar tentang si zero waste ini.
    Buku andalan saya, Belajar Zero Waste, Menuju Rumah Minim Sampah. karya dk wardani.
    Cuma masalahnya, semangat saya masih suka turun naik nih mbak

    ReplyDelete
  2. Progression over perfection mbak.. hehe. Aku pun blm sempurna ini belajar zero waste nya. Masih suka fail..haha. btw, bu DK itu juga salah satu panutankoeee... ❤

    ReplyDelete

MY SCIENCE EDUCATION WEBSITE

A Member of

A Member of

Komunitas